Tuesday, 19 February 2013

Normalisasi Basis Data

Normalisasi Basis Data

NORMALISASI
Dalam perancangan sebuah basis data perlu dilakukan secara cermat agar dihasilkan basis data yang kompak dan efisien dalam penggunaan ruang penyimpanan, cepat dalam pengaksesan dan mudah dalam manipulasi data. Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam merancang basis data seperti ini adalah dengan melakukan normalisasi.
Normalisasi adalah proses penyusunan tabel-tabel yantg tidak redundan (dobel), yang dapat
menyebabkan anomali pada saat terjadi operasi manipulasi data seperti tambah, ubah dan hapus. Anomali yaitu proses basis data yang memberikan efek samping yang tidak diharapkan (misalnya menyebabkan ketidakkonsistenan data atau membuat sesuatu data menjadi hilang ketika data lain dihapus). Sebuah tabel dapat dikategorikan efisien atau normal jika telajh memenuhi tiga kriteria, yaitu :
  1. Jika ada dekomposisi tabel dimana dekomposisinya dijamin aman (Lossless Join Decompotition).  Dekomposisi adalah proses pemisahan satu tabel menjadi dua atau lebih tabel baru.
  2. Trepeliharanya ketergantungan fungsional pada saat perubahan data (Dependency Preservation).
  3. Tidak melanggar Boyce-Codd Normal Form (BCNF).
Tahap-tahap normalisasi :
1. Membawa suatu relasi tak ternormalisasi ke bentuk normal kesatu (1NF) dengan cara menghapus semua pegulangan group dan mungkin diperlukan pemecahan relasi menjadi 2 atau lebih. Pada langkah ini diperlukan pula penentuan kunci primer (primary key). Suatu relasi dikatakan berada dalam bentuk normal kesatu (1NF) bila tidak terjadi pengulangan group atau semua data bersifat atomic
2. Menghilangkan ketergantungan parsial atribut yaitu merubah/memecah relasi sehingga semua atribut bergantung fungsi kepada kunci primer. Ini disebut bentuk normal kedua (2NF).
Dari tabel1 dapat dilihat bahwa terdapat lebih dari satu ketergantungan fungsional terhadap kunci primernya, yaitu atribut indeks_nilai yang bergantung penuh kepada atribut kode-kul dan nim sebagai kunci primernya, sedangkan atribut nama-mhs juga bergantung penuh terhadap atribut nim (padahal atribut nim hanya bagian dari kunci primer), jadi tabel1 dikatakan tidak memenuhi syarat 2NF. Pada tabel 2, tabel1 dipecah menjadi 2 tabel sehingga bentuknya menjadi 2NF.
3. Mengeliminasi ketergantungan transitif yaitu merubah/memecah sebagai relasi sehingga semua atribut yang bukan kunci tergantung fungsi secara penuh kepada kunci primer/tidak ada ketergantungan parsial yaitu ketergantungan atribut kepada atribut yang bukan kunci. Ini disebut bentuk normal ketiga (3NF).
Pada tabel1 alamat mahasiswa di pecah menjadi beberapa atribut yaitu alamat_jalan, nama_kota dan kode_pos dan pada tabel ini yang bertindak sebagai kunci primernya adalah nim, tetapi pada tabel1 ini ada atribut lain yang bukan kunci primer yang saling tergantung yaitu atribut nama_kota bergantung pada atribut kode pos, sehingga tabel1 dikatakan tidak normal karena tidak memenuhi bentuk 3NF. Agar tabel1 dapat dikatakan bentuk normal maka tabel1 dipecah menjadi 2 tabel yang terlihat pada tabel2, atribut nama dan atribut alamat_jalan bergantung dengan kunci primernya yaitu atribut nim, sedangkan pada tabel selanjutnya atribut nama_kota bergantung kepada kunci primernya yaitu atribut kode_pos.

0 comments:

Post a Comment